|
Dengan Kepedulian Wujudkan Kebersamaan Meskipun sebagai kota metropolitan, hubungan antar manusia yang didasari dengan sikap peduli dan saling tolong menolong harus terus dipelihara,dan dijadikan perekat bermasyarakat. Semarang Bergandeng Tangan, merupakan upaya menciptakan iklim bermasyarakat dengan menggalang rasa solidaritas, kepedulian sekaligus menumbuhkan rasa persaudaraan antar sesama warga.
BERTEPATAN dengan Hari Jadi Kota Semarang pada 2 Mei 2009 mendatang, Pemkot menggulirkan program Semarang Bergandeng Tangan sebagai wujud kepedulian warga terhadap sesamanya, sebenarnya program ini sudah ada sejak tahun 2005. Semarang Bergandeng Tangan adalah program Pemkot untuk menumbuhkan kepedulian sosial, baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun kepada warga sekitarnya, terutama kepedulian terhadap mereka yang masih kurang beruntung. Program ini melibatkan seluruh komponen lini dan sector yang ada, baik pemerintah, swasta, masyarakat, serta akademisi untuk bersama-sama bergandeng tangan meningkatkan kepedulian sosial dengan membantu mereka yang kurang beruntung. Walikota Sukawi Sutarip mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peka terhadap sesama. Masyarakat yang dinilai mampu diharapkan bisa menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu tetangganya yang kekurangan. “Semua warga harus peduli terhadap sesama, terutama warga yang kurang mampu,” tuturnya. Dijelaskan Walikota, menolong sesama tidak harus melalui materi berupa uang atau barang. Tapi bisa dilakukan semampunya. Jangan sampai ingin membantu orang lain, namun keadaan diri sendiri malah telantar. “Kalau mampunya memberi nasihat, ya cukup dengan nasihat. Yang penting bisa membantu semampunya,” katanya. Ada dua tahap untuk mewujudkan kepedulian,pertama : kepedulian terhadap diri sendiri. Artinya, untuk seluruh warga masyarakat agar memedulikan dirinya sendiri dengan cara: hidup teratur; tidak boros; tidak berbuat melanggar hukum, norma, agama; tidak merugikan diri sendiri dengan minuman keras, berjudi; serta hidup sehat dengan membiasakan olahraga yang murah meriah, yaitu jalan sehat. Jika kepedulian terhadap diri sendiri sudah bisa dan terbiasa dilakukan,maka tahap kedua : kepedulian terhadap orang lain yang kurang mampu/beruntung disekitar kita utamanya meliputi bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Sebagaimana terhadap diri sendiri, kepedulian kepada warga yang kurang beruntung bisa dimulai dari hal yang kecil, dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan kita. Pertama, dengan memberi bantuan. Di bidang pendidikan, misalnya, jika anak pembantu rumah tangga atau tetangga kita yang masih sekolah,meskipun sekolah mereka gratis, namun mereka tetap membutuhkan seragam, sepatu, alat tulis, kita beri bantuan salah satu kebutuhan dari seragam sekolahnya, sepatu, atau buku-bukunya, tentu akan membuat anak-anak itu bersekolah dengan senang. Selanjutnya, kedua, dengan memberi perhatian. Semisal ada tetangga yang sakit, kita tengok/besuk beramai-ramai. Tunjukkan empati pada yang sakit, agar cepat sembuh. Wujud kepedulian yang berikutnya, ketiga, dengan memberi solusi. Semisal ada tetangga yang menganggur, coba kita beritahukan kepadanya tentang perusahaan-perusahaan yang masih memiliki lowongan pekerjaan. Keempat, atau yang terakhir, adalah dengan memberi fasilitas. Inilah bentuk kepedulian yang sangat bernilai manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Ibarat kita memberi kail, bukan sekadar ikannya. Untuk itu Walikota berharap, program ini tidak hanya dijalankan dan langsung berhenti. Tapi harus terus dan berkelanjutan. Sebab, melalui program Semarang Bergandeng Tangan diharapkan akan terwujud solidaritas antarwarga yang semakin kuat, yakni kerukunan antarwarga/elemen masyarakat berdasar nilai-nilai kemanusiaan yang mengedepankan sikap tolong-menolong. Dan pada gilirannya, gerakan kepedulian ini akan menjadikan Semarang sebagai kota yang kondusif untuk banyak kepentingan. Program Semarang Bergandeng Tangan , sebenarnya selama ini sudah dilaksanakan oleh masyarakat melalui berbagai kegiatan kepedulian social baik yang dilaksanakan oleh perseorangan maupun kelompok , baik melalui bakti social , solidaritas bencana, pengobatan gratis,bea siswa dsb.. Misalnya, 22 Maret lalu, Walikota Sukawi berkesempatan menyerahkan 14 paket pendidikan bagi 14 siswa kurang mampu di Kelurahan Gajahmungkur. Paket ini merupakan sumbangan dari warga setempat. Paket pendidikan tersebut dipilih karena selama ini banyak pelajar yang masih menggunakan peralatan sekolah yang sudah rusak karena tidak memiliki biaya untuk membeli yang baru. Jauh sebelum itu, sejumlah kegiatan pendukung juga banyak digelar untuk menyukseskan program ini. Salah satunya berupa sosialisasi melalui kegiatan jalan sehat yang dijanjutkan dengan “Ayo Peduli Sang Pelayan Masyarakat”, yakni kegiatan berupa pembangunan rumah ketua RT 10, Kelurahan Sendangguwo, yang ambruk. Kegiatan ini menjadi bagian dari “Gerakan Solidaritas Masyarakat” peduli musibah tanah longsor di RW V, termasuk RW IX dan RW I. Selain itu, ketika beberapa waktu lalu Kota Semarang dilanda banjir, Semarang Bergandeng Tangan juga “bergerak” untuk dapat meringankan beban banyak korban yang membutuhkan uluran tangan. Tidak hanya bantuan berupa logistik, bantuan perbaikan rumah seperti yang dilakukan BKM Sendangmukti dan Sanling P2KP dengan memperbaiki 45 rumah dengan total pembiayaan Rp 72.000.000. Semarang Bergandeng Tangan juga berhasil menggugah hati para dermawan untuk membantu mereka melakukan sunatan massal yang dilakukan oleh LSM BUMI Pertiwi di lokasi Balai RW IV. Berbagai rangkaian kegiatan sosial prapeluncuran tersebut, diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk turun mendukung dan menyukseskan program Semarang Bergandeng Tangan. Meski dimulai dari hal kecil, dengan saling peduli dan berbagi, tentu akan berarti dan menjadi solusi yang tak ternilai bagi sesama.*** |